MGMP INFORMATIKA

Kembali ke Arsip
Berita 20 July 2026 | Oleh: Administrator MGMP

“Pasrah Boleh Menyerah Jangan” Menjaga Jiwa dan Pikiran di Hadapan Kecerdasan Artifisial

Oleh : Yusak Munawar Iqbal

Instansi Asal: SMP Negeri 4 Gegerbitung Satu Atap

 

A.    Pendahuluan

Di era ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita mengejarnya, kecerdasan Artifisial (AI) telah menjadi sahabat baru bagi banyak orang. dari membuat laporan, mencari ide, menulis naskah, sampai menghasilkan desain kreatif semuanya kini bisa dilakukan hanya dengan mengetikkan beberapa kalimat. Kemudahan ini tentu membawa manfaat besar. Namun di balik gemerlapnya, ada satu kekhawatiran yang mulai terasa nyata: manusia perlahan menjadi malas berpikir. Hari ini, banyak orang lebih memilih meminta AI untuk membuatkan ide, dibanding melatih otak mereka untuk berimajinasi, menganalisis, atau merumuskan gagasan sendiri. Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas berpikir kritis dan daya kreasi generasi kita. Di sinilah makna kalimat “Pasrah Boleh, Menyerah Jangan” menemukan relevansinya. Pasrah berarti menerima bantuan teknologi sebagai alat pembantu. Kita boleh memanfaatkan AI untuk mempercepat pekerjaan, memberikan inspirasi tambahan, atau memperkaya sudut pandang. Tetapi menyerah dalam arti berhenti berpikir dan hanya mengandalkan mesin adalah pilihan yang berbahaya.

AI seharusnya menjadi kendaraan, bukan pengemudi. Ia mempercepat perjalanan, tetapi arah tetap harus ditentukan manusia. Masalah muncul ketika kita sepenuhnya pasrah pada mesin, lalu menutup pintu kreatifitas dan kemampuan berpikir mandiri. Tanpa disadari, kita sedang membuat diri sendiri kehilangan naluri untuk menemukan solusi, memecahkan masalah, atau menciptakan ide-ide baru yang orisinal. Kemampuan berpikir tidak tumbuh dari kenyamanan. Ia tumbuh dari tantangan dari usaha untuk mencoba, gagal, mengulang, merenung, dan mencari jawaban. Jika kita memilih menyerah dan membiarkan AI melakukan semuanya, maka masa depan bukan lagi milik pemikir, melainkan operator teknologi. Teknologi memang akan terus berkembang. AI akan terus menjadi bagian hidup kita. Namun justru karena itulah, manusia harus menjaga dan melatih sesuatu yang tidak dimiliki AI: intuisi, nurani, kreativitas, empati, dan kebijaksanaan. Itulah hal-hal yang membuat manusia tetap unik dan berdaya. Pada akhirnya, pesan yang ingin saya sampaikan sederhana: Gunakan AI sebagai alat, bukan penopang hidup. Biarkan teknologi membantu, tetapi jangan biarkan ia menggantikan peran otak dan hati kita.

Pasrah boleh: biarkan AI bekerja bersama kita.
Menyerah jangan: biarkan diri kita tetap berpikir, berkarya, dan bermakna.

 

B.    Pembahasan

1.    Mimpi Efisiensi: Jebakan “Batman”, ketika pengemudi menyerahkan kemudi kepada penumpang

Pembaca budiman, ketika seseorang memiliki beban yang menjadi tanggung jawab utama dirinya tiba-tiba ada pihak yang bersedia menanggung beban tersebut dengan lebih baik, lebih cepat bahkan tanpa cela tentunya orang tersebut menjadi terbantu dan merasa diringankan. Namun, bagaimana jadinya jika bantuan tersebut datang setiap saat ketika dibutuhkan, tak kenal lelah bahkan tanpa pamrih. Dugaan penulis pemilik beban akan menjadi ketergantungan bahkan perlahan melupakan beban tersebut hingga merasa semuanya akan baik baik saja dengan mengandalkan penolong hebat tersebut. Beban yang digambarkan penulis tersebut adalah beban pemikiran kritis, beban ini sudah sejak lama menjadi tanggung jawab manusia secara keseluruhan. Dalam hitungan milenial manusia melakukannya dengan sangat baik meskipun harus terseok- seok terombang-ambing bermacam tantangan namun tetap melakukannya dengan keyakinan kehidupan yang lebih baik. Namun kini datang fenomena teknologi bergelar AI-Kecerdasan Artifisial. Dia datang dengan segala kemegahannya yang padahal salinan kesuksesan para pemikir selama ini dengan tambahan kemampuan prediksi gabungan para pemikir hebat di dunia. Bedanya dia tidak lupa dan dia begitu konsisten memegang prinsip.

Penulis berkeyakinan inilah letak bahaya tersembunyi penggunaan AI, manusia awalnya terbiasa merasakan sensasi frustasi akibat bermacam kegagalan, lalu bangkit kembali lalu gagal lagi lalu bangkit lagi hingga mencapai yang diinginkan. Dengan kehadiran AI sensasi frustasi dan jatuh bangun ala Meggi Z ini hampir tidak ada seolah musnah ditelan kemudahan kemudahan sosok AI. Setelah keadaan ini manusia kehilangan kemampuan berdialektika dengan dirinya bahkan dengan sengaja namun tanpa sadar hanya menjadi operator mesin buatannya yang bertugas melakukan VERVAL Verifikasi dan Validasi bahkan direnggut gelarnya dari pencipta menjadi pengguna pasif.

2.    “Pasrah Boleh”: Manjadikan AI sebagai penumpang, bukan pengemudi

Penulis mengumpamakan “pasrah” dalam sisi bijaksana artinya perkembangan zaman sudah menjadi kodrat yang tidak dapat ditolak manusia. Namun manusia memiliki kebebasan dalam bersikap dalam hal ini terdadap AI. Menerima kehadiran AI harus dimaknai bahwa AI Adalah alat bantu dalam pekerjaan yang bersifat administratif, sebagai alat bantu mempercepat pada proses awal penelitian. Namun AI jangan dilibatkan sepenuhnya pada penentuan konten moral, komitmen kemanusiaan dan  ulasan yang bersifat emosional. Biarkan manusia menentukan semua tujuan akhir yang diinginkan karena hanya dengan cara inilah manusia tetap menjadi manusia dengan atribut kemerdekaan yang melekat.

3.    “Menyerah Jangan”: Wisdom Park mutlak milik manusia bukan mesin

Serangan bertubi-tubi dari AI yang mencoba merangsek masuk ke ruangan kesucian kemanusiaan berupa intuisi, empati, dan kebijaksanaan (wisdom).saat ini sedang terjadi. Manusia merdeka sebetulnya punya pilihan bebas untuk mencegahnya dengan alasan menjaga ruang kesucian tersebut demi keberlangsungan kemerdekaan dirinya. Menolak menyerahkan kedaulatan ruangan tersebut secara bersamaan bermakna tetap memilih menjadi manusia merdeka.

Sejatinya apa yang dilakukan AI berupa prediksi, abstraksi, algoritma, dan dekomposisi yang seolah-olah sempurna hanya berupa pemikiran-pemikiran lama dari pemikir pada masa lalu yang oleh AI diingat lalu dikemas seolah pemikiran baru yang mentereng. Sementara itu manusia masih memiliki kemampuan yang lebih hebat berupa penemuan baru selama dirinya mampu dan rela mengalami kesakitan, frustasi dan kesulitan selama pencarian tersebut sebab walaupun penemuan AI terlihat presisi tetap akan kehilangan "jiwa" sentuhan personal manusia yang hanya lahir dari pengalaman hidup, luka, tawa, dan nurani sejati manusia yang merdeka.

 

C.   Penutup

Kecerdasan buatan hadir bukan untuk memperkecil kapasitas berpikir manusia, melainkan untuk menantang kita naik ke level yang lebih tinggi. Bahaya terbesar dari era AI bukanlah mesin yang menjadi terlalu pintar dan menguasai dunia, melainkan manusia yang memilih menjadi malas berpikir dan membiarkan dirinya dioperasikan oleh teknologi. Konsep "Pasrah Boleh, Menyerah Jangan" adalah kompromi yang cerdas sekaligus benteng pertahanan terakhir bagi akal budi kita. Kita boleh memasrahkan efisiensi teknis pada AI, tetapi kita tidak boleh menyerahkan kedaulatan berpikir dan kreativitas kita kepada mesin sebagai identitas utama manusia merdeka yang sakral.

Diskusi & Komentar (0)

Anda harus Login sebagai anggota untuk meninggalkan komentar.

Belum ada komentar yang disetujui untuk artikel ini. Jadilah yang pertama berkomentar!