"Pasrah Boleh Menyerah Jangan" (Kontributor: YUSAK MUNAWAR IQBAL)
Opini tentang Maraknya Penggunaan AI dan Menurunnya Kemampuan Manusia untuk Berpikir Mandiri
Di era ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita mengejarnya, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi sahabat baru bagi banyak orang. Dari membuat laporan, mencari ide, menulis naskah, sampai menghasilkan desain kreatif semuanya kini bisa dilakukan hanya dengan mengetikkan beberapa kalimat. Kemudahan ini tentu membawa manfaat besar. Namun di balik gemerlapnya, ada satu kekhawatiran yang mulai terasa nyata: manusia perlahan menjadi malas berpikir. Hari ini, banyak orang lebih memilih meminta AI untuk membuatkan ide, dibanding melatih otak mereka untuk berimajinasi, menganalisis, atau merumuskan gagasan sendiri. Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas berpikir kritis dan daya kreasi generasi kita. Di sinilah makna kalimat “Pasrah Boleh, Menyerah Jangan” menemukan relevansinya. Pasrah berarti menerima bantuan teknologi sebagai alat pembantu. Kita boleh memanfaatkan AI untuk mempercepat pekerjaan, memberikan inspirasi tambahan, atau memperkaya sudut pandang. Tetapi menyerah dalam arti berhenti berpikir dan hanya mengandalkan mesin adalah pilihan yang berbahaya.
AI seharusnya menjadi kendaraan, bukan pengemudi. Ia mempercepat perjalanan, tetapi arah tetap harus ditentukan manusia. Masalah muncul ketika kita sepenuhnya pasrah pada mesin, lalu menutup pintu kreatifitas dan kemampuan berpikir mandiri. Tanpa disadari, kita sedang membuat diri sendiri kehilangan naluri untuk menemukan solusi, memecahkan masalah, atau menciptakan ide-ide baru yang orisinal. Kemampuan berpikir tidak tumbuh dari kenyamanan. Ia tumbuh dari tantangan dari usaha untuk mencoba, gagal, mengulang, merenung, dan mencari jawaban. Jika kita memilih menyerah dan membiarkan AI melakukan semuanya, maka masa depan bukan lagi milik pemikir, melainkan operator teknologi. Teknologi memang akan terus berkembang. AI akan terus menjadi bagian hidup kita. Namun justru karena itulah, manusia harus menjaga dan melatih sesuatu yang tidak dimiliki AI: intuisi, nurani, kreativitas, empati, dan kebijaksanaan. Itulah hal-hal yang membuat manusia tetap unik dan berdaya. Pada akhirnya, pesan yang ingin saya sampaikan sederhana: Gunakan AI sebagai alat, bukan penopang hidup. Biarkan teknologi membantu, tetapi jangan biarkan ia menggantikan peran otak dan hati kita.
Pasrah boleh: biarkan AI bekerja bersama kita.
Menyerah jangan: biarkan diri kita tetap berpikir, berkarya, dan bermakna.
Diskusi & Komentar (0)
Belum ada komentar yang disetujui untuk artikel ini. Jadilah yang pertama berkomentar!